Biru's Notes

Sejumput Permainan Rima dan Diksi

Tampilkan postingan dengan label Filia-Ilmi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filia-Ilmi. Tampilkan semua postingan

Supernova


Ledakmu sangat besar dan masif
Engkau bagai persinggahan bagi jiwa yang meletup-letup
Engkau dibicarakan sebagai awal
Dari sesuatu yang sudah lama mati

Aku menganggapmu juga begitu
Menggambarkan diriku juga sebagai
Bagian dari jiwa-jiwa yang meletup-letup itu
Engkau begitu indah seperti awal baru yang ditunggu-tunggu

Semoga saja kelak
Takkan ada lagi yang mengelak 
Dari pengakuan terhadap keindahanmu
Dan juga keluguan berkat sanggahan-sanggahan bodohmu

Seperti resapan air di antara kelakar jenaka umbi-umbian
Di permukaan bagian bawah bumi
Bersama juga wortel-wortel oranye yang bercanda ria bersama sayur kol di atas panci sop elektrik

Sebagian keindahanmu berada dalam keresahan-keresahanku
Sementara sebagian yang lainnya ada pada dirimu
Terpatri hakiki tersujud bersama setiap potong kue kehidupan kepada Yang Satu

Yang Maha Satu, 
Yang Tak Semu...

Semoga saja kelak 
Awan-awan petualang yang berarak
Bagai tak tentu arah di antara gemintang malam ini
Menyaksikan pula diriku juga dirimu
Serta semua orang yang tahu


Kata adalah senjata

Untuk menerangi dunia

Ataupun membuat gelap segala isinya


Kata adalah senjata

Dapat mencipta luka dan juga derita

Bagi pemegang maupun yang ada di hadapan matanya


Kata adalah senjata

Dapat membuat bahagia

Juga mengindahkan semesta


Dan pula melengkapi cerita yang semula tanpa cita

Walau kadang hanya sekejap mata

Atau barangkali mampu bertahan sampai renta


Kata adalah senjata

Untuk memerangi para dusta

Yang memutarbalikkan fakta

Memporak-porandakan realita

Dan yang akan membuat terhancurkannya semesta


Kata adalah senjata

Dapat mengukir sejarah penuh cinta

Pula merendahkan derita tanpa bekas fatamorgana


Kata adalah senjata

Terukir sebagai barang abstrak tak berguna

Bila tak dapat diterjemahkan 'tuk diambil artinya


Kata adalah senjata

Bukan berarti akan jadi hal yang selamanya sia-sia

Perwujudan "sederhana"-nya adalah "perekatan" dan "pemadatan" dari "semesta tak berujung" 


Yang dapat mengungkapkan pengetahuan-pengetahuan rahasia 

Jauh lampaui berbagai dimensi tak berukur dalam semesta



 Rindu...


Dipuji dalam lirih...

Dijeruji dalam sendu...


Berpacu dalam buih...

Teruji bak serdadu...


Dalam diam terasa pedih

Dalam ramai seperti mengecap mengkudu


Kita menelisik sambil berbisik

Terusik kala terambil asyik


Sudikah kiranya kita bergelombang?

Tenggelamkan ide yang mengambang

Menuju palung asa yang paling cemerlang


Engkau ter-ilham kala ber-faham

Bahwa segala hal yang ber-alam

Akan mengalami masa redam

Akan kembali tunduk terdiam


Sudikah pula kiranya bila kau mengekor?

Kepada hal-hal yang kau anggap kompetitor?

Hingga kau terjerumus bermain kotor?


Engkau berpersepsi bahwa segala hal dapat teratasi

Meski, kadangkala mesti lalui fase frustrasi

Dan kau pun akhirnya beradaptasi

'Tuk dapatkan hasil presisi yang termaksimalisasi







Sukakah kau bertualang?
Berkelana sambil berlalu-lalang...
Mencari warna di tengah padang ilalang...

Banyak,
Tanya yang dapat kau cari
Di dalam pemikiran sendiri

Banyak pula,
Yang berdiam diri
Merenungi mimpi sampai tertidur lagi

Sudahkah kita bertualang?
Kelabui sepi di tengah riuh genderang
Berharap 'kan gelap di hari yang terang

Banyak,
Jawab yang dapat diisi
Di atas perbuatan yang beralaskan kontemplasi

Banyak pula,
Yang berlari-lari...
Meniduri hari, bahkan sampai jumpa malam lagi

Kau dan aku...
Sudahkah saling koreksi diri?
Atau justru malah segani... 

Sungkan berkaca diri
Pada sebuah telaga suci...

Bernama jati diri.

Jika kau ingin menggali
Galilah...

Namun jangan sampai hanya di permukaan atas saja

Tegar dan galilah...
Galilah hingga dalam

Dan jika sudah kau temukan 
Zat hara yang sempurna untukmu

Tancapkanlah akarmu di sana

Akar terkuat
Dan tersempurna

Yang tak pernah ada sebelumnya
Di antara akar-akar terbaik
Yang ada di dunia

Berakarlah
Seolah-olah kau adalah pohon kelapa tertangguh
Yang tak akan rubuh

Oleh tsunami...
Dan bahkan gemuruh

Buatlah akar yang menancap dalam
Sedalam jiwa murni yang meredam
Segala bentuk tindakan kejam
.

Cahaya matamu benderang 

Terangi kata-katamu yang menyerang

Tiadakah sejenak batasan 
Antara massa dan keterkaitan?

Antara aku
Dan juga titik beku

Antara engkau
Dan segelintir sengau

Berlari kesana dan kesini
Berhari merona dan pula berironi

Lengking tangis nuranimu masih terdengar
Walau samar kau coba tuk tetap berpura tegar

Aku tahu apa yang ada dalam sanubarimu
Sesuatu yang benar-benar mengganggumu
Hingga mengaburkan pandanganmu

Kau terjebak

Dalam permainan egomu

Tak kunjung kau temui titik cair beku itu
Oleh sebab perbuatan mesin beku
Yang ditenagai egomu

Berhentilah membeku
Mulailah berjibaku

Mulailah...

Buat pandanganmu bulat seperti bumi
Tempat dimana kau berpijak dan berlari
Dan tempat dimana kau akan diinjak lalu ditinggalkan pergi 

Jangan kau buat sudut palsu itu
Sesuatu yang sebenarnya hanya ada dalam pandang nalarmu
Kekhawatiran yang hanya ada dalam kisah rentet keanti-naluriahanmu

Pahamilah sebulat bumi
Jangan kau potong-pisahkan 
Bagian-bagian yang seharusnya menyatu
Dan memang satu

Kita tak berpijak di atas bumi yang bersudut
Kita berpijak di atas bumi...

Yang memang benar-benar bumi
.


Engkau meredam
Segala bentuk keinginan murnimu
.
Engkau terekam
Dalam diam bersama sifat nalurimu
.
Dan pula kau terpejam
Kala segunung kantuk menghujamimu
.
Teruji apa yang terpendam
Jauh di dalam sanubari hatimu
.
Terkekang hingga dalam
Pun diberangus hawa nafasmu 
.
Yang tak kunjung lurus itu
.
.
Berkelok seperti putaran yang tak sempurna
Tak lurus seperti alunan suci murni jenaka sejatimu
.
.
.
.
Kau dan aku
Apakah tengah bercanda?
.
Kau dan aku
Apakah tengah bersenda?
.
Di dalam jeda.
Dalam beranda.
.
.
.
Di dalam kesungguhan engkau enggani
Di dalam gurauan engkau malah segani
.
.
.
Enggan.
.

Beberapa hal mungkin tak dapat kumengerti

Beberapa hal mungkin sebaiknya begitu saja adanya agar tak perlu terpahami

Biarlah beberapa kebodohan tetap menjadi kebodohan

Agar beberapa kepintaran tetap menjadi kepintaran

Tak mengurangi sedikit 

Pun melebihkan apapun di antara keduanya


Segala bentuk kesulitan 

Pun jua kemudahan 

Akan tetap seperti adanya

Akan tetap seperti ketentuannya

Hanya akan ada satu rasa yang tersisa

Seperti sedia kala

Dikala segala kala bermula

Dikala segala makna berandai seksama


Kami sulit memahami dalam memaknai

Dikala kami sendiri

Pun dikala kami berdiri

Dikala kami berlari

Pun dikala kami bersajak dalam hari


Ketentuan dan ketetapan

Akan tetap dan tentu

Akan tentu dan tetap

Sekalipun segerombolan awan Nimbus besar sedang gusar

Mengawasi Cirrus yang panjang terbentang nan kurus


Kuharap kami akan baik-baik saja

Mengambil arti dari segala janji

Yang terbebas dari jeruji

Yang terlepas dari segala uji

Bersama segala sajak

Membuai dan beranjak

 Entahlah

Kadang aku berpikir untuk menjadi hebat

Namun setelah berkelumit cukup lama menelaah

Ternyata "jadi hebat" itu akan cukup membuat lelah


Akhirnya ku berhenti berpikir 

Untuk menjadi hebat


Dan kemudian ku berjalan


Kadang tergesa


Kadang biasa-biasa saja


Berlari dalam cari

Berhari dalam diri


Kernyit-kernyit di dahi seringkali 

Mengemuka hingga muka

Kelabui dalam buai

Dan aku bersesuai


Hidup itu harus memiliki

JIka bukan arti

Maka apalagi?

Hidup itu harus berharap

Jika bukan terserap

Lalu apalagi?


Hidup itu harus redup

Jika bukan letup

Maka apalagi?

Dan, hidup pun jua harus sedang

Selayang pandang

Serta saling pandang


Apalagi harus dalam hidup?

Berkeliling dunia kah?

Bertualang lintas-buana kah?

Aku sepatut-patutnya manusia

Yang tak ada dapat mengerti

Pun jua alpa dari benar-benar pahami


Hidup itu permainan

Ujar seorang yang hobi bermain

Atau, yang sering merasa dipermainkan


Hidup itu perjalanan

Ujar seorang yang hobi berjalan

Atau yang sering berganti-ganti perjalanan


Hidup itu perjuangan

Ujar seorang yang dalam hidupnya penuh perjuangan

Atau, yang diam-diam dari dasar sanubarinya "berharap diperjuangkan"


Lalu, apa pengertian hidup?

Menurut apa yang kau kerjakan saat ini?



Ada yang menghilang

Di kala rembulan datang berulang

Di kala surya perlahan menghilang


Ada yang hilang

Di kala senja berselang

Lanjutkan mimpi terkekang


Dan adapula yang hilang

Di kala aku meregang

Perih dan lirih terngiang


Dan akupun menghilang

Di tengah gelap bersilang

Di tengah sinar benderang


Dan sungguh pun kami menghilang

Di khayal rembayang

Dikawal rindu berbayang


Aku sedang mencari arti

Sesuatu yang mungkin dapat aku mengerti

Sesuatu yang mungkin dapat ku beri hati

Sesuatu yang mungkin dapat buat berarti


Aku sedang mencari arti

Sesuatu yang hanya akan didapat dengan cara berhati

Sesuatu yang harusnya tak akan dapat dikhianati

Sesuatu yang bilamana tak berarti,

Akan berhenti.


Aku ingin mencari arti

Sesuatu yang terpendam dalam dasar hati

Sesuatu yang membuat jatuh hati

Setelah sebelumnya melambung terbang tinggi


Aku hendak mencari arti

Agar dapat mengerti

Agar dapat pahami

Dengan segala arti

Dan sepenuh hati


Ada kalanya ku bertanya kepada senja

Mengapa ia begitu manja

Mengiringi hidup yang begitu-begitu saja


Ada kalanya pun ku bertanya pada senja

Mengapa ia begitu dicinta

Bagi sebagian yang bermanja

Tanpa berpikir sudah lalui apa saja


Ada kalanya jua ku bertanya 

Namun bukan kepada senja

Kepada diri sendiri saja


Sudah benarkah apa yang telah kulalui 

Hingga terbersit dalam pikirku begini-gini saja


Kurang bersahajakahku dalam lintasi berbagai senja?

Berbagi sahaja dalam hidup yang dianggap begitu-gitu sahaja


Metafora-metafora tanpa arah

Sibakkan arti yang mengarah

Kepada sisi yang lelah

Kepada rasa yang resah


Sebahagian hidup yang gelisah

Kadang menuntun kepada jiwa yang resah

Menemui diri saling mengasah


Agar dapat berjumpa 'tuk singgah

Di sebuah ruang dan waktu


Yang penuh angka satu


Yang saling menggerutu


Walau ber-satu

##


Hidup itu harus merdeka

Terbebas dari duka

Bersuka cita meski dalam derita

Tanpa sedikitpun merasa lara


Hidup itu harus merdeka

Merdeka dari luka

Yang ditimbulkan oleh sebab rasa tak menerima


Hidup itu harus merdeka

Merdeka dari derita

Yang sebenarnya hanya angan tanpa citra

Dalam manifestasi duka-lara


Dan,

Hidup itu harus benar-benar merdeka

Merdeka dari luka

Merdeka dari duka


Yang ada hanya suka

Meski terkadang mata berkaca-kaca


Sekali lagi,

Hidup itu harus merdeka

Merdeka dari mereka

Yang beranggap kejujuran bukan hal paling nyata dalam fakta

Yang beranggap bahwa dusta akan merealisasikan cita


Ya, hidup itu harus merdeka.



Tentang kehidupan


Berawal dari sebuah mimpi

Yang bertemu mimpi lainnya

Bersatu dalam buai realita fana

Kemudian terpisah kembali dalam kefanaan juga


Tak jua mereguk nikmat keabadian sejati

Mencari jatidiri terlampau sunyi

Mengiba pada garis takdir fana

Beranggapan dengan naas semua asumsi adalah telah benar


Namun,

Yang patut disayangkan adalah

Ketika kau berasumsi semua telah benar

Ada satu titik kesalahan fatal

Begitu kecil tak terlihat

Tetapi justru adalah penentu

Kemana kau akan pergi selanjutnya


Beberapa perjalanan tak terencana

Beberapa bahkan tak bertujuan akhir

Yang ada hanyalah perjalanan itu sendiri

Tujuan sejatinya hanya menjalani 

Tanpa kompromi dan peduli kondisi


Yang mana yang akan jadi akhirmu

Bukan penentuanmu sendiri

Seperti yang mana awalmu


Begitu sunyi

Begitu sepi


Dan tanpa bunyi


Selamat datang di kehidupan

Dimana kau merasa hidup

Ketika kau berpura-pura hidup

Ketika kau berpura-pura untuk ikut serta

Agar tak tertinggal berita


Jangan hidup

Jika tak berakar

Jangan hidup

Jika tak berkelakar


Ini hidup

Bukan redup


 


Tunggu aku

Jika kau mendengar desis resonansi semestaku

Tunggu aku

Jika kau mendengar jerebu di dadaku menggebu


Dan tunggulah aku

Hingga ku dapat apa yang seharusnya ada padaku


Sertakan pula doa itu padaku

Agar diperkilat dan segera sudah

Sebab bukan hal mudah bergulat bersama waktu

Buatku lelah dan lekas gundah


Hanya rindu

Satu harapanku yang sendu

Hanya pilu

Satu rasa coba kualihkan jadi serdadu

Hanya jiwamu

Yang entah sedari kapan sudah tandang ke jiwaku bertamu


Hal mengerikan apa yang kau khawatirkan?

Hal menakutkan apa yang kau cemaskan?

Jika kau kekanak-kanakan, kau akan menganggap

Persepsi yang kau dapat dari penginderaan adalah mengerikan


Adalah menakutkan...


Kau takut akan perubahan secara tiba-tiba 

Yang kau dapati melalui penginderaan menghantuimu

Menghampiri setiap detik nafas engahmu

Hingga kau tersungkur bersama histeriamu


Kau terjatuh tergopoh-gopoh

Meminta tolong pada orang dewasa, sesiapapun yang kau temui

Meminta penyertaan mereka agar kau merasa aman, agar kau merasa nyaman

Padahal kelak kau akan mengetahui itu semua kau lakukan oleh sebab kau belum percaya

Kau belum kenali, kau belum resapi

Diri sejatimu


Dan, tibalah kemudian saat kau 'menjadi dewasa'

Ketakutan dan kengerianmu beralih

Kekhawatiran dan kecemasanmu berganti lirih


Dari semula kekhawatiran akan hal-hal spekulatif yang fiksional

Berubah jadi kekawatiran akan hal-hal spekulatif yang 'lebih rasional'

Menggugah citra-citra positif dan negatif ke ranah yang lebih rumit

Ke lembah dan puncak tertinggi dari yang paling kompleks

Engkau seketika tersesat 


Kekhawatiran, ketakutan pula kengerian yang umum

'Orang-orang dewasa' alami dan 'orang-orang dewasa' pahami

Tidaklah 'sengeri' yang 'orang-orang kecil' pahami

Bila dilihat dari perspektif si 'orang-orang kecil'


Mereka hanya berpaut pada hal 'biasa'

Yang dianggap 'orang-orang kecil' pada umumnya

Padahal,

Sejauh rasa lelah membuat terpaku

Sejauh rasa jenuh berpeluhkan pilu

Adalah 'jeratan terkuat' yang dialami sang 'orang-orang dewasa'

Membuat abai

Membuat lalai


Dan lupa diri akan 'hal-hal sejati' yang sepatutnya layak diberi 'pautan' lebih


Kekhawatiran, ketakutan dan juga kengerian sejati harusnya,

dan semestinya adalah ketika kita justru merasa perlu 

Untuk mengkhawatirkan itu semua

Untuk meresahkan itu semua


Yang mana pada mulanya sudah terdapat 'ketentuan-ketentuan'...

Dan 'seorang dewasa' patut mengetahui dan meresapi hal itu

Bukan terjebak pada fatamorgana persepsi


Menyatu bersama ego dan kisah-kisah fiksi

Menyeruak hingga alam ilusi 

Yang tetap terus begitu hingga ber-repetisi




Itu bagus

Ketika kau mencoba temukan arti hidup di suatu jalan yang baru

Ketika kau mencoba terangkan arti hadirmu di suatu pergumulan hati yang rumit

Dan ketika kau terus mencoba untuk pahami bahwa hidup dan segala hal yang ada di depanmu adalah misteri


Dan,

Itu pun juga bagus

Ketika kau menemukan dirimu bukanlah sosok sempurna

Ketika kau menemukan bahwa dirimu bukanlah serba bagus

Ketika kau menemukan dirimu bukan pula sosok serba tidak kurang 

Dan bahwa dirimu, juga diriku, adalah fana


Dan kita semua juga pahami bahwa adalah itu bagus

Jikalau kita semua sadar berada di satu dunia 

Dimana dengan segala kerumitannya

Mencari kesederhanaan di tengah kelumitan itu

Dan masih juga menjadi sesederhana yang kita mampu tuk hindari kerumitan itu


Dan itu sangatlah bagus, ketika

Kita sadar dimana kita berpijak

Dimana kita menengadah

Dan juga sadar kita hanyalah sosok yang rentan lelah


Walau,

Dalam beberapa hal bagus itu

Ada sisi-sisi yang tidak dapat kita pahami

Bila tak mampu kita penuhi

Bila tak mampu kita genapi


Sebesar apa pun tetap kita masih kembali kepada hal itu

Kembali ke sisi-sisi yang kita harap tinggalkan untuk menjadi bagus,

Bagus di Pandangan Sejati

Bukan sekedar pandangan-pandangan yang fana itu 


---




Jika ada yang bisa ku pilih untuk dapat ku mengerti, aku hanya ingin dapat mengerti kebahagiaan

Bukan kesedihan dan atau bentuk-bentuk hal lainnya...

Aku hanya ingin menjadi seorang egois yang, sekali lagi, hanya mengerti kesenangan dan tanpa kesengsaraan atau bahkan keragu-raguan yang kelabu dan samar

Jatidiri utopis dalam impian angan sebagian banyak orang awam 

Menembus batasan-batasan redam


Bercecer sudah segala bentuk penyesalan, kekesalan dan bahkan 'kesialan' itu

Aku sudah mencoba tuk lupakan hal-hal 'tak penting' yang tak semestinya teringat

Namun yang ada, sejauh yang dapat aku sadari, bahwa 'melupakan' bukanlah jalan tengah dalam pencarian solusi perburuan jatidiri yang sesungguhnya


Lautan kebijaksanaan bukanlah seonggok idea-idea fana penuh kepentingan politis semata

Ia adalah 'idea-idea murni' yang tak berpijak pada bumi

Melesat kemanapun tempat di alam semesta ini, bahkan kemungkinan besar semesta alam ini

Sebab ia adalah bahasa lintas-buana yang (hanya) dapat dipahami dengan ilham, sesuatu yang tidak dapat semata-mata dimiliki lewat pemahaman melalui rentet nalar berdeduksi tinggi. 

Ia hanyalah sesuatu yang sangat sederhana yang dapat dimengerti segala bangsa, segala usia, pun lewat segala bentuk keberagaman lain yang dapat diketahui manusia.

Ia hanyalah sesosok rapuh yang terkalahkan sifat-sifat fana-fanatik manusia


Terpaksa 'berlebur' dalam situasi lintas-kondisi 

Berperang melawan diksi 

Dan ber-akulturasi dalam multi-interpretasi


Aku sungguh-sungguh seorang utopis dalam kefanaan ini

Aku hanyalah penyerap ilmu 

Yang bersandar teguh,

Menggenggam dan bahkan mencengkeram erat, jika perlu, dengan geraham-gerahamku yang lemah ini


Satu-satunya perjanjian yang dapat kalian saksikan adalah

Bahwa inilah aku

Setelanjang-telanjangnya aku

Dalam lingkupan norma-norma, pun strata-strata yang sama-sama fana dengan jenaka jasmaniku,

Sama-sama fana dengan hasrat-hasratku


Kecuali jiwa murniku 

Yang kerap kali terkekang rasa keingintahuan serba-nir


Serba cukup dari segi kenalaran 'biasa'

Serba lebih dari segi kenal-luaran 'biasa'


"Penyesalanku s'makin dalam dan sedih 

Aku serahkan semua milik dan hidupku 
Aku tak ingin menderita begini 
Mudah-mudahan ini hanya mimpi... 
Hanya mimpi..." 

 ~Koes Plus - Kisah Sedih di Hari Minggu~ 


Begitulah kata-kata Koes Plus pada masanya 
Menyuratkan kata-kata yang di dalamnya terdapat penyesalan mendalam dari seseorang atas sesuatu yang terjadi di masa lalu 
Dengan akhir sang penulis berharap bahwa semua itu hanyalah mimpinya semata. 
Bukan kenyataan, seperti yang sesungguhnya ia alami. 

Seringkali, dikarenakan beberapa kondisi dan situasi yang "menyulitkan" dalam memahami keadaan dimana seharusnya kita mengerahkan "all-out" sumber daya yang kita miliki baik itu pikiran, tenaga, uang bahkan jiwa untuk "menggapai" keadaan ideal dalam hidup, malah dorongan "ego" dan "keinginan untuk lelah" yang sudah mendesak seolah memaksa agar "menyerah" begitu saja tanpa berpikir jernih jauh lebih dalam mencerna "problematika" yang dapatlah disebut "klasik" dalam kenyataan-kenyataan hidup ini. 

Energi yang tercurahkan untuk "pemenuhan kebutuhan utama" telah menyita seluruh perhatian kita. 

Yang mana semestinya kita dapat membagi-bagi porsi dari setiap energi yang kita perlukan baik itu untuk diri kita sendiri, orang lain atau bahkan Sang Pencipta. 
Pembagian energi yang saya maksudkan disini adalah agar apa-apa yang kita keluarkan dan curahkan tidak membuat "ngoyo", sehingga bila selesai terfokus pada suatu cabang permasalahan dalam suatu bidang yang tak jarang pelik, tidak menyebabkan kita lalai akan hal-hal lain yang semestinya diperhatikan. 
Hal-hal kecil yang dirasa sepele oleh beberapa orang namun efeknya jelas terasa dikemudian hari. Seperti sikap-sikap "empati sepele" terhadap pribadi dan orang lain. 

Dengan tertulisnya suratan ini, sekiranya saya hanya ingin menyampaikan bahwa ada baiknya kita dapat membagi-bagi porsi dari setiap sendi kehidupan kita secara proporsional. 

Tidak berlebihan, tidak pula berkekurangan. 

Padu padannya mesti seimbang. 

Bagaimana cara mengaturnya? 
Ini adalah pertanyaan yang semestinya dapat Anda jawab dan "manage" sendiri bagaimana baiknya. 

Bukan, bukan saya lepas tangan begitu saja dari permasalahan yang telah saya ungkapkan ini. 
Saya hanya berharap kita semua dapat mengenali diri kita sedalam dan sejernih-jernih pikiran murni. 

Entah dengan apa saya akan akhiri tulisan ambigu ini, 
Yang pasti kita hanya dapat berusaha agar mendapatkan perubahan lebih baik dalam segi apa pun dari hari ke hari. 
Tak mengapa perubahan itu, bila diibaratkan hanya setitik tinta. 
Toh, lama-kelamaan setitik tinta itu nantinya akan menjadi sebuah huruf... kata... kalimat... lalu jadilah sebuah karya sastra terindah dari hidup kita. 

Tetaplah jadi versi terbaik dan lakukan yang terbaik apapun, dimanapun dan kapanpun itu. 

Sebab kita hidup di hari ini. 
Bukan pada masa lalu. 
Maupun masa depan. 

Masa lalu ada dalam pikiran dan perasaan
Sementara masa depan berada dalam dimensi berbeda di luar "sekedar nalar" kita.

Salam.


 ---

Postingan Populer

Total Tayangan Halaman

Mutiara Band's Fan Box

Mutiara Band on Facebook
free counters

About this blog